10. Pembuktian dalam Kasus Perceraian Atas Tuduhan Mengenai Zina

Pembuktian dalam Kasus Perceraian Atas Tuduhan Mengenai Zina

Prinsipnya dalam hukum acara perdata, siapa yang mendalilkan maka ia harus membuktikannya. Tidak bisa meminta pihak yang dituduh untuk membuktikan yang sebaliknya.

Tuduhan mengenai zina ini adalah hal yang sangat sensitif dan krusial.

Dalam hukum Islam bahkan dibutuhkan empat saksi dewasa yang mengetahui dan melihat secara langsung terjadinya persetubuhan. Tidak boleh hanya sekadar melihat laki-laki dan perempuan yang bukan suami-istri  sedang berduaan di kamar.

 

Jasa Pengacara Perceraian Talak dan Perceraian Gugat di Jember

 

Lantaran ketatnya bukti tersebut, Pengadilan Agama Ngawi bahkan pernah menolak gugatan cerai yang diajukan seorang istri walaupun ia mampu menyodorkan banyak bukti foto, BBM dan SMS yang menunjukkan suaminya sedang beradegan mesum dengan beberapa perempuan sekaligus. Hakim beralasan tidak ada empat saksi yang melihat langsung adanya persetubuhan.

 

Kalau seperti ini, apakah tidak ada jalan lain menuntut cerai jika meyakini bahwa pasangan melakukan zina?

Jika membaca UU Peradilan Agama lebih detil, sebenarnya ada celah bagi seseorang yang ingin menggugat cerai pasangannya karena alasan zina tapi terbentur ketersediaan empat saksi yang melihat langsung. Yaitu ada ketentuan Pasal 87 UU Peradilan Agama yang menyatakan:
Pasal 87

 

Apabila permohonan atau gugatan cerai diajukan atas alasan salah satu pihak melakukan zina, sedangkan pemohon atau penggugat tidak dapat melengkapi bukti-bukti dan termohon atau tergugat menyanggah alasan tersebut.

 

Anda dapat Mengajukan Gugatan Cerai di Daerah Tempat Tinggal

 

Hakim berpendapat bahwa permohonan atau gugatan itu bukan tiada pembuktian sama sekali serta upaya peneguhan alat bukti tidak mungkin lagi diperoleh baik dari pemohon atau penggugat maupun dari termohon atau tergugat, maka Hakim karena jabatannya dapat menyuruh pemohon atau penggugat untuk bersumpah.

 

Pihak termohon atau tergugat diberi kesempatan pula untuk meneguhkan sanggahannya dengan cara yang sama.

 

Oleh karena itu, menurut kami, jika suami sebagai pihak yang dituduh berzina meminta Majelis Hakim untuk memerintahkan Penggugat (dalam hal istri yang mengajukan gugatan) untuk mengangkat Sumpah, dikarenakan telah menuduh Tergugat berzina, dengan merujuk pada bukti-bukti yang diajukannya. Atau sebaliknya, jika suami yang memohon talak jika menuduh istrinya telah berzina.

 

Kapan Perlu Menggunakan Jasa Pengacara Perceraian Karanganyar?

 

Di Kompilasi Hukum Islam (KHI), sumpah di atas disebut juga dengan li’an. Hal ini diatur di dalam Pasal 125-128 KHI. Sumpah li’an dilakukan dengan cara suami bersumpah dengan nama Allah empat kali dengan kata tuduhan zina diikuti sumpah kelima ia siap menerima laknat Allah jika ia berbohong.

 

Sebaliknya, istri yang menolak tuduhan tersebut juga sumpah empat kali bahwa ia tidak berzina dan pada sumpah kelima ia siap menerima laknat Allah jika yang dituduhkan suaminya itu benar.

 

Tapi ingat, li’an ini hanya bisa dilakukan atas perintah hakim. Oleh karenanya hanya sah jika dilakukan di sidang pengadilan agama.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *